Halo Ambivert!

Fleksibel mau jadi ekstrovert juga introvert ialah ambivert, kata para psikolog yang menemukan istilah ini baru pada tahun 1940an.

Beberapa tes dan penjelasan lain merujuk diriku demikian. Dulu sebelum tau istilah ambivert, kupikir ini adalah alter ego-nya diri atau malah kepikiran kalau sepertinya aku belum kunjung kenal diri sendiri. Setelah tau istilah ini ada sedikit angin segar dan sepertinya tetap masih belum kenal betul diri sendiri /:

Ambivertku ini biasanya kurasa dalam hal keterbukaan diri terhadap orang lain. Ada kalanya pengen selalu kumpul sama orang dalam beraktivitas produktif juga nongkinya dan ada kalanya pengen me time untuk merenung dan recharge energi setelah kumpal kumpul termasuk ga nyentuh media sosial. Dalam keduanya bisa butuh waktu yang mayan lama, sungguh. Selain itu kalo ada sesi curhat, aku akan bisa menampung cerita-cerita orang dan insyaAllah merespon objektif dengan landasan pikir mengarahkan ke yang lebih baik sepengetahuanku. Tapi belum tentu akan ganti menceritakan punyaku, cenderung kusimpan rapat sendiri.

Continue reading

Refleksi Diri

” 忘れようとすることで 傷が癒えないのは 。 忘れようとすることで 思い出されるから 。 僕は巡り巡り巡り巡り巡ってく 。 止まった時計の前で 立ちつくすのはやめよう 。”
dengan artinya
” Alasan mengapa luka tidak hilang saat kau coba melupakan. Karena jika kau melupakan, kau akan kembali mengingatnya. Aku berputar, berputar, berputar, berputar, dan terus berputar. Waktunya untuk berhenti melihat jam yang sudah tidak berputar. ”
begitu kutipan dari lagu Hikaru Nara dari Goose House dalam lagu pembuka ke-1 anime Shigatsu wa Kimi no Uso.

Continue reading

Tahu Diri

Sering mendapati ini?
Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman: 13).

Bosan?
Semoga tidak karena manusia yg tahu diri adalah manusia yang bersyukur #imo
Dengan bersyukur, manusia paham bahwa siapa dirinya dan untuk apa hidup di dunia berdasarkan kodrat gendernya masing-masing.

Continue reading