Time Ate Me

Apa lagi-lagi diri ini masih futur? Domba yang tersesat?

offended-12320fd23b3cb9fa178f177c622bd587

Kalo pas flashback atau cem merenungi agenda harian makin sini makin sering ngerasa downs-nya dibanding ups-nya, such a big no no bgt selagi kepala 2 gini di umur-umurannya ngeksplore. Kudunya lebih banyak ups yang mungkin hasil olah pikir (manipulasi) dari si downs, optimis atau being positive in other words. Kalo inget dulu bisa gini, bisa gitu juga, bisa ups terus. Kok akhir-akhir ini kebalik mulu. Baca-baca atau nyari booster tapi kaya ga berhasil ae, buka tulisan sendiri sampe ngerasa kesindir. Nyoba ngaplikasiin lagi dan ngulangi plan+wacana jaman jebot eh rasanya buerat. Berasa jadi pribadi yang mongtok kaya para sosok lalu yang aku berprasangka-kan terhadapnya.

Akhirrrnya, bulat sudah jawabannya. Am lacking of self discipline, really. Life is full of ups and downs, because it is real life not daydreaming. Waking up is the first aid, because it means we’re not zombie. Kalo lagi jadi zombi ngikut terus sama rutinitas yang ada karena lingkungan dan kondisi, sibuk aktif di hal-hal tapi ga produktif buat diri sendiri. Itu kenapa dari awal milih lingkungan adalah kunci, seperti apa lingkungan kita itulah kita. Supaya jadi ikan laut yang ga asin walaupun air laut itu auasin, self discipline jawabannya. Kata Cambridge dictionary:

Screenshot_20170731-152335.jpg

Meski 20an itu umur-umurannya asik ngeksplor, sisi egois (yang sewajarnya) untuk serius di pengembangan diri adalah kebutuhan utama. Pengembangan terkait skill, pengalaman wirausaha, dan yang ga kalah penting nyiapin bekel amal. Kalo ga punya self discipline, wacana pengembangan diri bakal terus jadi wacana yang kekal sampe umur kematengan lewat dari setengah abad kalo masih ada rezeki hidup.

Justru dengan fokeus ber-self discipline nyiapin bekel amal yang berarti ga cuma inget dunia, biasanya ampuh buat disiplin di lain-lain. Karena semenit kemudian aja udah ada arahnya mau ngapain, happy hour-nya aja terarah, lama-lama bukan cuma hour aja tapi emang hidup bahagia. Positif ngadepin setiap hal dan maknai pelajarannya dengan ga buang waktu buat berprasangka sama orang lain. Karena waktu juga akan habis dipake buat ngurus diri sendiri yang maunya banyak banget.

Tapi kita si manusia sosial ini pasti sedikit banyak akan turut mikirin yang bukan urusannya secara langsung. Hal yang terdekat, tentang ibu pertiwi 😭
Banyak opini dan fakta tentang rumah kita, salah satunya coba baca ini worth to read:
https://www.quora.com/Why-is-Indonesia-underdeveloped/answer/Jane-Johnson-63?srid=BXhL&share=ffdd1f35

I don’t want time keep eating me. And you?

Mencoba.

Kawan, boleh aku bercerita?
Bercerita tentang cerita yang bukan sekedar basa-basi pengisi waktu senggang dan pelebur kecanggungan, cerita yang mengekspresikan emosi akan sesuatu, cerita yang mempunyai pesan moral. Sayang sekali aku buruk terhadapnya. Karena apa yang kita selalu urusi dan risau akannya merupakan refleksi tingkatan diri ini. Namun, mohon izinkanlah aku terus mencoba bercerita karena inilah mediaku dalam belajar menulis.

Akankah kau malu ketika tulisan dan tutur katamu tidak merepresentasikan tindak lakumu?

Continue reading

Futur(e)

Qiyamul lail tidak lagi spesial.
Bangun shubuh sekedar menggugurkan kewajiban shalat, kemudian kembali terlelap.
Berangkat telat, agenda harian tidak siap, sering kali progress lambat.
Pelajaran di kelas tidak paham, lantaran fokus yang terpecah mengejar target lain di agenda.
Tidak bersegera memenuhi panggilan adzan yang berkumandang, jamaah terlewat.

Continue reading