Dialog kepada-Nya

Pagi itu earphoneku tertinggal di rumah teman. Berangkat naik motor tanpa mendengarkan melaluinya terasa mirip ketika jam tangan ketlingsut. Beruntung langit seperti sedang tersenyum amat lebar, karena birunya semakin indah dihiasi kapas-kapas putihnya dan cahaya matahari yang hangat tanpa menyengat sedang membersamai. Jalanan kampus yang kulalui seperti menyapa sambil mempertontokan sekelebat gambaran diri saat dulu beraktivitas di sana. Walaupun cuma tergopoh-gopoh berlari mengejar agenda atau ketika diam menunggu kawan melihat tanaman yang sekarang malah sudah tumbuh besar. Nyengir dan entah sebenarnya emosi jenis apa yang menyelimuti hati sampai rasanya mau nangis.
Malamnya juga demikian, sabit atau purnamanya yang sangat indah sudah kurekam sekaligus dengan memori yang turut terbang.
Disuguhkan keindahan seperti itu ternyata bisa mendadak bikin diri jadi melankolis begini apalagi kalau hujan.

Continue reading

Advertisements

Pelarian

Dia adalah nama gadis yang turut antri bus jurusan Ciburuy di halte bus depan Mesjid Agung siang itu. Satu dua kali bus datang, gilirannya belum juga tiba. Muncul dalam pikiran untuk  sedikit adu otot sehingga dapat menerobos lapisan antrian saat pintu bus terbuka namun Dia tidak cukup nyali melakukannya, mengingat yang antri di sana ialah ibu bapak paruh baya dengan bawaan berkardus-kardus barang dagangan atau oleh-oleh untuk sanak saudara yang sudah mengantri lebih pagi darinya.

Continue reading