Dialog kepada-Nya

Pagi itu earphoneku tertinggal di rumah teman. Berangkat naik motor tanpa mendengarkan melaluinya terasa mirip ketika jam tangan ketlingsut. Beruntung langit seperti sedang tersenyum amat lebar, karena birunya semakin indah dihiasi kapas-kapas putihnya dan cahaya matahari yang hangat tanpa menyengat sedang membersamai. Jalanan kampus yang kulalui seperti menyapa sambil mempertontokan sekelebat gambaran diri saat dulu beraktivitas di sana. Walaupun cuma tergopoh-gopoh berlari mengejar agenda atau ketika diam menunggu kawan melihat tanaman yang sekarang malah sudah tumbuh besar. Nyengir dan entah sebenarnya emosi jenis apa yang menyelimuti hati sampai rasanya mau nangis.
Malamnya juga demikian, sabit atau purnamanya yang sangat indah sudah kurekam sekaligus dengan memori yang turut terbang.
Disuguhkan keindahan seperti itu ternyata bisa mendadak bikin diri jadi melankolis begini apalagi kalau hujan.

Continue reading

Advertisements

Semoga

Sesungguhnya dulu aku juga ingin seperti batu karang yang kokoh.
Memecah setiap ombak yang menghantam.
Memiliki andil mencegah lingkungan terabrasi.
Menjadi tempat tinggal anthozoa.
Terus berdiri tegak tanpa mengenal setiap yang mengenainya. Continue reading

Pra-25

Bukan lagi main sama lagu 18nya 5SoS atau 1D, bukan juga 22nya TS tapi 20something-nya Jamie Cullum dan menuju ke album 25nya Adele. “Nya” nya banyak nya๐Ÿค”

Angka terus nambah, semoga pun dengan kapasitasnya. Andai bisa tinggal bilang “tambuah ciek” aja, ni idup bakal santuy.
Kalo minjem istilahnya Prof. Rhenald Kasali, kalo diri ini sekedar jadi penumpang yang ngikut alur hidup orang kebanyakan di kehidupan ini ya bisa aja. Tapi kalo kita adalah pengemudi, mana ada sampe tujuan tanpa kitanya sendiri yang berusaha.

Continue reading

Ngode

Wait, ain’t gonna talk abt dat “relationship”.

Pernah ngerasa kalo sebelum ada sesuatu yang mayan besar suka kaya ada tanda-tanda semacem feeling sinyal atau kejadian kaya the last reminder/warning gitu?

Continue reading