Perkenalan Diri

Hola, sudahkah kau mengenali dirimu?

Apakah kamu yang sekarang benar-benar kamu?
Kapan seharusnya seseorang mafhum dengan dirinya?

Jika ku jawab mengenai diriku, belum sepenuhnya ku mengenali diri ini.
Dan tidak yakin apakah ini adalah perwujudan sebenar-benarnya diriku atau yang orang lain, seperti ibu, harapkan akanku.
Pikirku seharusnya tidak ada batasan waktu seseorang memahami dirinya, kecuali kematian yang memang batasan hakiki setiap orang hidup di dunia dari-Nya. Namun ada kalanya seseorang perlu segera mencukup pahamkan tentang dirinya sebagai alasan memilih sesuatu dalam hidup pada titik-titik tertentu di kehidupannya. Misal dalam mengetahui minat dan bakat diri ini terhadap sesuatu, mengetahui studi dan pekerjaan yang ingin dan perlu ditempuh, mengetahui calon pendamping hidup jika diperlukan seperti perintah-Nya, atau hal apapun yang jika dipilih akan mempengaruhi kehidupannya.
Setelah ditentukan pilihan, itu adalah salah satu jalan mengeksplorasi diri sebagai ruang yang lebih luas untuk memahami diri dengan mencari hal yang cocok dengan diri, hal yang disukai, hal yang nyaman, hal yang bermanfaat.
Pilihan demi pilihan dilalui maka jadilah diri seperti adanya begini.
Patut diingat pula bahwa pilihan-pilihan terlahir dari elaborasi pikiran berdasarkan passion, ketertarikan, ataupun mentaati aturan orang tua. Jadi benar bahwa diri yang begini adalah hasil pola asuh orang tua (parenting) dan hasil belajar mandiri kita.

Pernah/sering mendengar kutipan Ali bin Abi Thalib Ra. yang berikut?

“Jangan menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun. Karena yang menyukaimu tidak butuh itu, dan yang membencimu tidak percaya itu.”

Timbul pertanyaan, kapan kutipan tersebut tepat diaplikasikan? Apakah kita tidak seharusnya bertindak laku menunjukkan apa adanya diri?
Gimana?

Jika iya begitu maka kita akan hidup seperti memakai topeng, tidak benar-benar menjadi karakter diri. Jika bertanya, lantas kita harus berpedoman pada siapa untuk menjadi diri yang baik. Sudah jelas bahwa Nabi Muhammad SAW ialah sebaik-baiknya teladan yang sudah semestinya dijadikan panutan.
Kemudian pikiran lainnya, tapi kondisi kita beda dengan zaman rasul dulu dan aku bukan tipe yang super sabar begitu. Hei Rasul pun punya shahabat-shahabiyah yang beragam karakternya, seperti Umar bin Khattab Ra. yang dikenal berwatak keras atau Sumayyah binti Khayyath yang berani.
Dengan kata lain, mari menjadi diri sendiri dengan menjadikan sudut pandang kita adalah landasan menentukan pilihan-pilahan hidup. Kelak, kita tetap nyaman dan senang karena sudah menjadi diri sendiri dan tujuan pun (mendekati) tercapai.

Jadi kutipan Ali bin Abi Thalib Ra. yang itu, menurutku tepat digunakan saat kita ada peluang show off tentang diri. Seperti ketika kita mau update status media sosial tentang suatu keterpurukan atau kebaikan diri yang mana sebenar-benarnya bisa disimpan sendiri. Sungguhlah tidak bijak kalau hal-hal yang sebenarnya kurang manfaat untuk umum tapi di-publish ke umum /:
Kesan akhirnya jadi semacam caper atau pamer.
Ga percaya?
Coba liat sekitar termasuk ngaca, adakah orang yang pernah menyampaikan (keluhan) tentang sesuatu selanjutnya beberapa waktu kemudian penyampaian yang sama diulangi? Apakah di kali pertama dia menyampaikan tidak ada yang sama sekali memberi solusi?
Jadinya malah kaya enjoy dengan keterpurukan dirinya sambil keep caper.
Oke di sisi lain hal ini, kadang aku jadi mikir am i not belong to this very media era? Emang tujuan adanya media sosial itu kan? Hm, karena aku masih kepikiran kalau cmon guys we can make use of the social media better than this.
Oke di sisi lain dari sisi lainnya itu benar juga bahwa after effect dari ngeklik “update” atau “tweet” dan semacamnya ampuh ngasih semacam relief ke pikiran. Ya ga masalah ketika dia emang mau sekedar bilang itu ke orang-orang yang mengikuti lini masanya, yang masalah adalah ketika dia ngarep solusi tadi. Err kalo ngarepnya solusi karena bukan ngomong tepat ke yang beneran mau peduli/ahlinya, ya wajar aja kalau berasa solusinya lambat atau nyaris ga ada. Siap-siap aja buat ga baper untuk kemudian caper lagi.

Salah satu alasan buat seseorang menjelaskan tentang dirinya adalah saat apa yang orang sekitarnya duga akannya tidak sesuai realitanya. Kalau artis biasanya melakukan konferensi pers buat klarifikasi. Kalau bukan artis ya media sosial wadahnya hehehe. Logika ingin membiarkan dugaan bergulir dengan sendirinya karena sebaik-baiknya tupai melompat akan jatuh juga, yang benar akan terungkap.
Tapi hati juga ingin menyuarakan hal-hal yang bisa jadi beban pikiran untuk dituangkan agar ringan sedikit.
Alasan kedua boleh jadi juga kalau ia ingin memotivasi sesiapa yang mengikuti lini masanya untuk semangat berkarya seperti dirinya bahkan melebihinya atau mengingatkan untuk tidak seperti dirinya yang minus dalam beberapa hal.

Guys, satu hal yang kadang bisa bikin kita ga kenal diri sendiri menurutku adalah saat kita make standar diri orang lain di kita. Orang yang punya tanggungan ini itu karena background begini begitu, doi berupaya ini itu walhasil doi gini gitu. Kita yang tanggungannya ginii karena background ginii, upayanya ginii walhasil hasilnya ya ginii. Ngayal emang kalo dari starting point-nya aja beda modal, mana bisa endingnya sama kaya doi. Dikira rezeki itu turun dari langit tanpa upaya.
Dan, siapa bilang gini gitunya doi itu bagus buat diri kita. Misal kita bisa kaya doi itu, coba bayangkan pelajaran apa yang dipetik.

“Dan berencanalah kalian, Allah membuat rencana. Dan Allah sebaik- baik perencana.” (Ali Imran: 54)

Ingatlah, sampai teknologi di film-film scifi jadi kenyataan juga rumput tetangga akan selalu lebih hijau.
Jadi hijaukan terus rumput kita.
Nikmati proses penghijauannya, senang akan yang udah jadi hijau.
Jadilah diri yang kita ingingkan.

wmua7FSHNA

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s