Minder

Adalah rasa yang bisa dialami ketika merasa diri ini kurang layak diapresiasi, baik oleh diri sendiri terlebih oleh orang lain. Jika pada porsinya sebagai pecut untuk menjadi diri yang lebih baik setidaknya selalu berprinsip “hari ini lebih baik dari hari kemarin”, minder adalah wajar dirasakan. Jika diposisikan sebagai mindset bahwa “aku begini begitu pokonya buruk” yang mewujud sebagai kerendahan diri adalah ketidakwajaran dan keanehan karena mengarah pada hidup statis bahkan degradasi yang sama sekali bukan tujuan dari manusia untuk hidup dengan sebanyak-banyaknya memetik pelajaran demi memaknai hidup untuk bahagia.

Perlu diingat, berbicara itu akan selalu nampak lebih mudah dibanding aksi. Dan yang tidak mengalami akan selalu nampak lebih mudah berkomentar. Kau tau alasannya kan?

Jika kamu di posisinya dengan segala kondisi hidupnya, akankah kau minder? Misal, dia tidak kunjung lulus mata kuliah A, B dan C.

Jika kamu di posisinya dengan segala kondisi hidupnya dan penilaian sosial di sekitarnya, akankah kau minder? Misal, dia tidak kunjung lulus mata kuliah A, B, dan C sementara teman-temannya sudah ada yang lulus atau sudah ada yang berpenghasilan sebelum lulus.

Dua kondisi di atas terasa janggal karena tidak disebutkannya alasan dari kondisi. Serta dua kondisi di atas terasa berbeda karena ada membandingkan dalam penilaian sosial. Banyak kemungkinan alasan yang ada, karena sudah jelas bahwa setiap orang memiliki latar belakang yang berbeda seperti latar belakang fokus dari dirinya, latar belakang kesulitan belajarnya, latar belakang ketertutupan dirinya, dsb.

Apakah sesungguhnya penilaian sosial itu sediperlukan itu? Apakah adil dan baik ketika alasan yang beragam tersebut digeneralisasi kemudian dinilai sosial dengan hanya 1 parameter seperti lulus mata kuliah = diri yang baik?

Benar bahwa nilai sosial itu tidak secara terang-terangan ada ibarat peraturan, nilai sosial ini ialah peraturan adat yang hanya dikenal secara lisan bahkan nampak digunakan tidak menyeluruh. Tidak terang-terangan ada namun energi yang dihasilkannya nyata adanya.
Kau tau, tatapan matamu memandang dia itu berbeda daripada memandang teman-temanmu yang lain. Selain itu, tak jarang sikapmu juga kontras terhadapnya daripada yang lain. Aku tidak tau apakah dia kau anggap sebenar-benarnya teman juga atau “sekedar” teman lokasi yang berarti teman karena kondisi, misal teman karena satu jurusan.

Secara alamiah penilaian sosial dengan mengkomparasikan pencapaian diri terhadap orang lain akan dilakukan olehnya untuk kemudian menjadi pecutnya. Sementara apakah kau tau, penilaian sosial yang kau berikan itu menjadi pendorong juga katalis baginya untuk minder, termasuk rendah diri.

.

.

.

-dia-

Advertisements

One thought on “Minder

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s